Pembayaran Utang Luar Negeri Kikis Cadangan Devisa

May 09, 2019

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2019 sebesar USD124,3 miliar atau turun USD200 juta dibandingkan dengan posisi pada akhir Maret 2019 sebesar USD124,5 miliar. Posisi cadangan devisa pada April 2019 terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa migas, penerimaan valas lainnya, dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Onny Widjanarko mengatakan, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,0 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," kata Onny di Jakarta, kemarin.

Ke depan, BI memandang cadangan devisa tetap memadai didukung keyakinan terhadap stabilitas dan prospek perekonomian domestik yang tetap baik.

Chief Economist Bank Negara Indonesia (BNI) Ryan Kiryanto memandang, cadev pada akhir April 2019 itu merupakan pilar untuk menjaga stabilitas sektor keuangan Indonesia terutama dari tekanan eksternal atas pasar keuangan domestik.

"Rupiah bisa dikawal dengan baik karena stok bagi BI untuk menstabilisasi rupiah cukup memadai. Indeks bursa saham juga bisa lebih terjaga dari tekanan eksternal," ungkap Ryan saat dihubungi.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai, cadangan devisa Indonesia April 2019 mengalami penurunan sebesar USD 200 juta, setelah pada 3 bulan sebelumnya terus mengalami kenaikan. Penurunan ini sejalan dengan keluarnya investor asing, yang mana ditandai adanya capital outflow dari pasar obligasi dan juga melemahnya rupiah menjadi Rp14,259/ USD secara rata-rata.

dolar

"Keluarnya investor asing dari pasar obligasi dan mata uang kemudian tertutupi oleh investor asing yang masuk ke pasar saham sebesar USD3.74 bilion," ungkap Josua.

Meskipun mengalami penurunan, tapi cadangan devisa Indonesia masih berada di atas angka kecukupan internasional. "Rilis data ini sudah berdampak pada pelemahan rupiah menjadi Rp14,295 per kemarin, setelah pada hari sebelumnya sempat mengalami penguatan ke level Rp14,280 per dolar," katanya.

Ekonom UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja memproyeksikan tren cadangan devisa ke depan sepertinya agak sedikit kurang stabil. Apalagi untuk cadev bisa naik terus secara konsisten karena risiko perang dagang yang kembali muncul belakangan ini akan mengakibatkan aliran modal asing jadi berkurang sehingga sebagian keluar dari emerging-market termasuk Indonesia.


Related Articles